Minggu, 04 Maret 2018

Pameran Seni Rupa “Sakapat: Menjemput Kebahagiaan” di Bentara Budaya Yogyakarta


Pelaksanaan : 20 - 28 Februari 2018 | 09.00 – 21.00 WIB
Opening : Selasa, 20 Februari 2018 | 19.30 WIB
Perupa : I Wayan Noviantara, I Putu Adi Suanjaya, I Wayan Sudarsana, I Wayan Bayu Mandira


Bentara Budaya Yogyakarta kembali menampilkan sebuah pameran seni rupa dari seniman di Yogyakarta. Bentara Budaya merupakan sebuah lembaga kebudayaan milik Kompas Gramedia yang berdiri sejak 26 September 1982. Bentara Budaya ini berfungsi sebagai wadah para seniman di Yogyakarta dalam memamerkan setiap karyanya.

Pada hari Rabu, 28 Februari 2018 saya dengan ketujuh teman saya berkunjung ke Bentara Budaya untuk melihat sebuah pameran yang sedang diselenggarakan di sana. Pameran tersebut yaitu Pameran seni rupa Kelompok Sakapat yang berjudul “Menjemput Kebahagiaan” atau dalam istilah Bali “Mendak Bagia”.

Pameran ini merupakan hasil karya dari empat perupa dari Bali yang tergabung dalam satu kelompok seni rupa bernama Sakapat. Kelompok ini beranggotakan I Wayan Noviantara, I Putu Adi Suanjaya, I Wayan Sudarsana, I Wayan Bayu Mandira, keempatnya merupakan mahasiswa ISI Yogyakarta yang berasal dari Bali. Nama sakapat sendiri diambil dari bahasa Bali yaitu Saka berarti tiang atau pilar dan pat berarti empat.

Pengunjung Pameran
Terdapat 9 buah lukisan yang dipamerkan. Begitu memasuki Bentara Budaya, para pengunjung langsung disuguhi lukisan-lukisan hasil karya perupa. Pengunjung hanya perlu mengisi daftar hadir yang disediakan oleh panitia. Pengunjung bisa secara bebas menikmati keindahan hasil-hasil karya seni rupa yang disajikan di setiap sudut ruangan. Pada saat kami berkunjung juga ada beberapa pengunjung yang diduga sekelompok seniman yang juga tengah berkunjung dan melihat-lihat lukisan yang dipamerkan.


Pameran Seni Rupa Sakapat
Pameran Seni Rupa Sakapat

Pameran tersebut sebagai wujud rasa syukur para perupa dalam meraih sebuah kebahagiaan melalui kesenian. Judul pameran ini terinspirasi dari adat masyarakat Bali dalam upacara Mendak Bagia, yaitu jenis upacara yang dilakukan sebagai tanda rasa syukur masyarakat Bali terutama yang beragama Hindu kepada Sang Pencipta yang dalam tingkatan ini disebut Dewa Yadnya atas limpahan hasil bumi yang diperoleh. Upacara Mendak Bagia merupakan rentetan upacara Karya Agung masyarakat Bali. Mendak bagia berasal dari dua kata yaitu "mendak" artinya menjemput dan "bagia" artinya sesaji yang berisi hasil bumi. Hasil bumi yang dimaksud diwujudkan sebagai kebahagiaan.

Saya dan teman-teman di depan kara berjudul "Parasitisme"
Salah satu contoh karya seni rupa "Bebas"


Sumber: http://www.bentarabudaya.com/detail-acara/pameran-seni-rupa-kelompok-sakapat


Suci Wulandari/IP B
#idks2018 #pustakawanplus #libraries #perpustakaan #pustakawan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar